Wajah Senyum Tak Bersalah

Ada hal menarik yang coba dipertontonkan oleh para tersangka dan terdakwa pelaku kejahatan (khususnya koruptor) di televisi, atau yang sekarang sering beredar (atau diedarkan) di media sosial. Wajah itu adalah wajah penuh senyum. Dan bahkan dengan percaya diri tidak terlihat kesan malu di wajah itu. Tidak ada kesan merasa bersalah dan prihatin di wajah itu.

Tentu, sejauh pengadilan belum membuktikan bahwa para pelaku kejahatan itu bersalah, kita tidak boleh berprasangka bahwa para pelaku itu pasti telah melakukan kesalahan. Apa pun yang terjadi, para tersangka dan terdakwa pelaku kejahatan berhak membela dirinya, hingga hukum positif membuktikan bahwa mereka terbukti bersalah dan layak dihukum.

Herannya, ketika kejahatan para pelaku itu telah ditayangkan dan diberitakan, berupa bukti-bukti rekaman video, rekaman telepon, dan gambar-gambar peristiwa kejahatan lainnya, wajah senyum itu tak pernah meluntur. Apa yang terjadi?

Pertama, mereka tahu bahwa melakukan kejahatan di Indonesia itu biasa. Mereka paham, siapa yang tidak pernah melakukan kejahatan di Indonesia. Hidup dalam negara miskin dan semrawut ini, hidup tanpa kebanggaan, siapa pun dia tidak akan terhindar dari perbuatan jahat. Mereka hanya sial dan tertangkap basah. Mereka segelintir orang yang tidak beruntung karena secara tidak sengaja kejahatannya diketahui.

Kedua, mereka tahu melakukan kejahatan tidak harus malu. Ya, kenapa mereka harus malu. Jangankan mereka yang “orang awam”, lha mereka para alim ulama, mereka para intelektual, peneliti, mahasiswa, guru, dan para pemimpin lainnya juga korupsi, atau melakukan kejahatan lainnya.

Ketiga, mereka tahu bahwa memasang wajah senyum itu adalah “kepribadian” masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah. Senyum itu sebagai tanda bahwa hatinya sedang riang karena dapat memberikan sedekah senyum. Jadi, senyum itu sebagai tanda kebaikan mereka, atau mereka baik-baik saja dan perlu memberi senyum.

Keempat, mereka tahu bahwa mereka hanya dikambinghitamkan. Dalam sistem birokrasi yang kita bangun itu, kemudian kita mengenal istilah bahwa korupsi itu dilakukan secara berjamaah. Dalam jamaah koruptor itu semua orang sebetulnya terlibat. Mereka “sengaja” ditangkap untuk dikambinghitamkan agar jamaah yang lain selamat, Jadi, ada juga perasaan di hati mereka justru yang tertangkap itu telah bertindak sebagai pahlawan.  

Kelima, mereka tahu bahwa toh nanti hukum bisa dibeli. Artinya, tidak ada yang perlu ditakutkan jika melakukan kejahatan korupsi. Uang akan menyelesaikan segalanya. Siapa kita yang bukan orang munafik tidak mau uang? Bahkan penegak hukum seperti jaksa, hakim, pengacara, polisi, pun ternyata tak kebal suap. Memang, tentu, tidak semuanya. Yang jelas, senyum adalah tanda kedermawanan.

Keenam, mereka tahu bahwa kelak setelah dihukum mereka bisa bersenang-senang. Mungkin mereka akan dihukum 1 atau bahkan hingga 7 tahun. Tapi dengan uang korupsi milyaran yang telah “disimpan” itu, mereka menganggap hukuman 1 hingga 7 tahun itu seperti bertapa sebentar, seperti menjalani hidup prihatin. Mereka percaya, setelah masa prihatin di penjara, maka masa untuk bersenang-senang akan datang sebagai imbalannya.

Ketujuh, terlepas dari itu, mereka tahu bahwa bagaimanapun mereka harus tampil layak lihat dan memenuhi kepantasan. Prasangka buruknya adalah bahwa sebetulnya mereka tidak percaya diri terhadap wajah mereka yang tidak ganteng atau tidak cantik. Untuk menutupi itu, mereka harus tampil senyum sehingga terlihat tetap ganteng atau cantik.

Tentu kita tidak tahu persis, kira-kira senyum yang mana yang diumbar para koruptor tersebut. Mungkin salah satunya, mungkin salah dua, mungkin semuanya.

Akan tetapi, mengingat kejahatan korupsi di Indonesia adalah keterlibatan berjamaah, sangat mungkin senyum mereka adalah senyum pahlawan. Jadi, jika Anda ingin menjadi pahlawan, maka salah satu cara adalah dengan melakukan korupsi. Syukur jika korupsi itu tidak ketahuan, karena Anda tetap menjadi pahlawan di lingkungan jamaah Anda. Wajah senyum Anda tentu tetap dapat ditebarkan, terutama di lingkungan jamaah sesama koruptor.

Terlepas dari itu, ada hal menarik lain, bahwa biasanya para pelaku kejahatan itu tiba-tiba tampil memakai kopiah, atau kopiah haji berwarna putih, dan memakai sarung. Seperti memperlihatkan bahwa mereka sebetulnya sangat relijius, tapi terjebak dalam kejahatan yang dia sendiri tidak mau melakukan.

Kemudian setelah tertangkap, dengan wajah tetap mengumbar senyum, setiap pembicaraan mereka mengucap Astagfirullah, Alhamdulillah, Allah sedang memberi cobaan, dan ungkapan lain yang seolah dengan tertangkapnya para koruptor itu, mereka tetap bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Tahu, bahwa sebetulnya Tuhan tahu bahwa dia tidak bersalah.

Yang pasti, mereka para koruptor itu adalah para aktor yang mampu menyembunyikan kegelisahan mereka. Mereka mampu “menjadi orang lain”, mampu memerankan peran yang bukan dirinya sendiri selama menjadi pesakitan.

Saya yakin, ketika mereka sedang sendirian, tidak ada orang yang melihat, maka wajah aslinya akan muncul dalam kesepian yang sangat. Wajah asli itu adalah wajah yang murung, wajah yang menyesal, wajah yang pedih. Dalam kondisi itu, mereka sedang tidak menjadi aktor dunia panggung sandiwara. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin