Strategi dan Permainan Panjat Pinang

Keadilan, kemakmuran, dan kesejahtaraan selayaknya ditempatkan sebagai cara bekerja sama yang harus diperjuangkan. Sebagai cara berjuang, kita perlu ihklas bekerja keras, kompak, dan saling mendukung. Untuk itu, kita perlu melakukan strategi dan budaya panjat pinang. Apa itu strategi panjat pinang?

Di antara sekian banyak jenis olahraga atau permainan, barangkali permainan (olahraga) panjat pinang-lah yang paling representatif untuk dibangun sebagai satu sikap budaya. Di dalam berbagai olahraga atau permainan, terdapat dua substansi, yakni saling berhadapan untuk saling mengalahkan, atau berlomba untuk saling menang, atau bermain untuk saling bergembira.

Memang di berbagai olahraga dan permainan tersebut, terutama permaian tim (bersama) kita perlu kompak, perlu kerja keras untuk mendapatkan keahlian, harus tertib terhadap peraturan. Kalau tidak tertib akan dikenai sangsi. Akan tetapi, substansinya adalah bagaimana kita mengalahkan lawan, bahkan kadang dalam berbagai cara. Permainan juga demikian, walaupun untuk mendapatkan kegembiraan atau kesenangan, tetapi substansinya adalah mengalahkan lawan main. Namun, tidak demikian pada panjat pinang.

Permainan panjat pinang bukan untuk mengalahkan lawan, bukan untuk menjatuhkan musuh, tetapi bergembira bersama, yang membutuhkan kekompakkan bersama, untuk mendapatkan hadiah bersama. Hadiah, yang pada umumnya bernilai sama, itu pun nanti akan dibagi secara adil kepada seluruh peserta yang terlibat.

Strategi panjat pinang adalah politik kompak dan saling mendukung, politik proporsional dan tahu diri, politik tidak untuk mengalahkan, politik untuk bersama-sama menikmati hasil kerja keras berupa hadiah yang dijanjikan. Hadiah itu tampak dan nyata, bukan konsep dan angan-angan.

Saling Mendukung

Seperti telah disinggung, hal menarik dari permainan panjat pinang adalah setiap peserta harus siap saling mendukung. Ini syarat mutlak permainan. Jika dalam satu permainan dibatasi lima atau enam orang (mungkin sampai tujuh orang), maka agar berhasil meraih hadiah, setiap peserta harus kompak saling mendukung. Jika tidak saling mendukung, maka hadiah tidak akan mungkin diraih.

Konsep saling mendukung adalah bahwa setiap peserta harus bersedia mana yang menjadi fondasi, mana yang menjadi medium/perantara, dan mana yang diposisikan di atas. Jika pohon panjat pinang sekitar 5 hingga 6 meter, maka dalam membangun kerja sama itu, harus ada yang rela dijadikan tumpuan, ada yang bersedia dijadikan pegangan (tangga/ mediator), dan bersedia memberi jalan kepada ”pahlawan” yang berposisi paling atas untuk merebut hadiah. Hadiah milik bersama.

Jika tidak kompak dan saling mendukung, dipastikan hadiah yang dicita-citakan tidak dapat direalisasikan. Saling ikhlas adalah kunci untuk membangun kekuatan agar peserta dapat mendirikan bangunan dirinya agar menjangkau hadiah. Sebagian besar masyarakat Indonesia sering melupakan filosofi panjat pinang ini. Mereka melihat kehidupan sebagai cara untuk mengalahkan dan merebut keuntungan pribadi.

Proporsional dan Tahu Diri

Dalam permainan panjat pinang, setiap peserta harus proporsional dan tahu diri dalam melihat dan memposisikan dirinya. Mereka yang berbadan lebih besar jangan memaksa diri untuk berdiri di posisi paling atas, dan sebaliknya. Jika para pemain panjat pinang tidak mampu secara proporsional dalam melihat dirinya, dapat dipastikan hadiah tidak akan sukses didapatkan.

Dengan demikian, dalam permainan panjat pinang harus memiliki strategi jika ingin mendapatkan hadiah yang diharapkan. Bagaimana membangun fondasi yang dibentengi oleh mereka yang kuat dan tahan injakan, bagaimana berposisi sebagai tiang penyangga, dan bagaimana orang yang diposisikan sebagai yang di atas tidak mengklaim hadiah sebagai hasil perjuangannya sendiri.

Di samping itu, permainan panjat pinang juga harus siap kotor dan jatuh. Kita tahu bahwa biasanya pohon panjat pinang dilumuri gemuk (olie atau pelumas). Hal ini juga menyimbolkan bahwa jalan gembira bersama keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan itu bukan  cara dan kerja yang mudah, melainkan licin. Itulah sebabnya, jika ingin mempraktikkan politik panjat pinang harus bersedia kotor dan terpeleset jatuh ke bawah. Padahal, seolah-olah hadiah hampir ada di tangan.

Hal menarik, hampir tidak ada aturan khusus dalam permainan panjat pinang, tidak ada juri, dan hampir tidak ada perkelahian. Semua berjalan dengan tertib. Begitu terlibat dengan permainan panjat pinang, maka kekompakan perlu langsung terbangun,  pembagian tugas dan posisi, dan semua dilaksanakan dengan perasaan gembira dan senang karena harapan mendapatkan hadiah.

Dijadikan Sikap Budaya

Persoalannya adalah bahwa politik dan ekonomi kita lebih menerapkan permainan sepak bola. Sepak bola, kita tahu, secara fisik langsung berhadapan, tujuan kemenangan atau mengalahkan lawan hal yang utama, gol kemenangan menyebabkan perlakuan terhadap pemain menjadi berbeda. Ada juri yang kadang-kadang terlibat ”jadi pemain” demi memenangkan satu tim tertentu. Ada peraturan yang sering dilanggar, dan sering muncul perkelahian yang konyol.

Alangkah indahnya jika dalam kehidupan sehari-hari filosofi panjat pinang itu dapat dijadikan pegangan dalam melakukan berbagai praktik kehidupan. Apa lagi dalam melakukan praktik politik yang sesungguhnya. Mereka yang terlibat dalam praktik politik akan saling mendukung, tahu diri secara proporsional dalam menempatkan posisi-posisi, demi bersama-sama merasakan keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran yang dapat dirasakan secara langsun dan bersama.

Artinya, bahwa sebetulnya budaya kita sudah menyediakan sebuah model permainan yang indah, menyenangkan, dan sekaligus menggairahkan. Permainan panjat pinang juga boleh dikata sesuatu yang khas dalam kebudayaan kita. Karena  permainan ini hampir tidak (atau sangat jarang) ditemukan di negara lain, atau paling tidak sedikit berbeda. Permainan ini layak dijadikan permainan nasional dan sekaligus dijadikan filosofi dalam melakukan berbagai praktik kehidupan. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin