Membangun Negara Dirgantara

Sistem dan instrumentasi kelautan (maritim), kenyataannya, hanya cocok untuk mengatasi persoalan dan hubungan antarpulau (dalam zona regionalnya), tetapi tidak mengatasi berbagai masalah nasional. Kini zaman telah berubah, sehingga sistem dan instumentasi udara jauh lebih cocok untuk mengatasi negara yang terdiri dari ribuan pulau dan tersebar sedemikian rupa. Kita pun harus mengakui bahwa, dalam praktiknya, sistem dan instrumentasi udaralah yang kita pakai, dengan pertimbangan efisiensi, efektifitas, dan kecepatan.

Dulu, hingga abad ke-19, teknologi dan sistem laut merupakan andalan utama. Kerajaan-karajaan di Nusantara sebagian besar berbasis kelautan (kemaritiman). Hubungan-hubungan yang jauh diselesaikan lewat laut. Berbagai “perperangan” sebagian besar juga terjadi di laut, sebelum akhirnya menguasai daratan. Sistem dan instrumentasi darat tentu tetap menjadi bagian penting, karena kenyataanya kita hidup di darat.

Historisitas ini menyebabkan kita menjadi bangsa laut atau bangsa daratan. Dalam  hubungan-hubungan antarpulau, sistem, nilai, dan tradisi laut masih dipertahankan. Sebagian lain membangun masyarakatnya berbasis daratan, atau dikenal sebagai bangsa agraris. Dulu rumah-rumah menghadap laut atau sungai di satu pihak, dan di dalam hutan di pihak lain.

Ketika Nusantara masih menguasai laut hingga abad ke-13 (ada yang mengatakan hingga abad ke-9), Nusantara termasuk salah satu negara pusat. Akan tetapi, ketika di laut Nusantara mulai kalah, dan terpaksa menjadi bagian dunia kapitalisme, maka Nusantara menjadi negara pinggiran. Hingga hari ini, kalau kita berusaha kembali menjadi negara maritim, dalam persaingan perkembangan teknologi laut, kita tetap menjadi negara pinggiran.

Kini, penduduk Nusantara yang terus bertambah itu hidup di daratan sebagai pilihan utama, bukan laut. Memang sebagian besar hidup di pantai. Sebagian besar kota-kota penting di Indonesia adalah kota pantai, tetapi tetap saja sebagian besar hidupnya habis dn berbasis di daratan. Bahkan kemanapun orang kota pantai itu pergi, pilihan utamanya adalah sistem dan instrumentasi udara, dan sebagian yang lain sistem dan instrumentasi darat. Sistem dan instrumentasi laut memang masih dipakai, tetapi itu pilihan “alternatif”, atau pilihan bagi mereka yang belum atau tidak mampu mengakses sistem dan instrumentasi udara atau darat.

Laut memang masih menjadi sumber ekonomi yang penting, dalam pengertian harafiah. Akan tetapi, itu bukan berarti kita perlu mempertahankan dan membangun ulang negara maritim. Teknologi dan sistem kemaritiman memang masih perlu terus dikembangkan untuk mengatasi berbagai masalah kelautan yang demikian luas, yang di atas kertas merupakan tiga per empat dari luas  Nusantara.

Hal signifikan yang mengubah sistem dunia adalah sistem dan instrumentasi udara. Kenyataan pula, bagian itu negara ini paling lemah. Padahal, begitu banyak solusi dalam mengatasi masalah, dan berbagai hal yang mempertimbangkan efektifitas, efisiensi, dan waktu (kecepatan), maka pilihan terhadap sistem dan instrumentasi udara menjadi pilihan utama.

Kita juga tidak bisa membayangkan banyak pekerjaan nasional yang harus dikerjakan yang berjarak jauh, antarpulau, dengan mengandalkan sistem dan instrumenasi laut. Untuk pengamanan laut, memang dibutuhkan kemampuan menguasai sistem dan instrumentasi laut. Akan tetapi, penguasaan udara tidak kalah efektifnya, baik dari segi kecepatan dan jangkauan, dalam mengatasi berbagai masalah keamanan laut tersebut.

Memang, sistem dan instrumentasi udara relatif lebih mahal dibanding laut dan darat. Akan tetapi, pengelolaan teknokrasi dan ekonomi yang efektif dan berbagai subsidi yang dimungkinkan untuk konsentrasi pengembangan negara udara (Negara Dirgantara), adalah suatu hal yang sangat perlu dipertimbangkan.

Kita pernah bangga menjadi bangsa pelaut, negara maritim, dan sebagainya. Akan tetapi, terbukti kita terpinggirkan karena ketidakmampuan dan kekalahan dalam mengembangkan teknologi laut. Jika ke depan kita berhasil (kembali) mengembangkan teknologi maritim, maka kekuatan, sistem, dan instrumentasi udara negara luar kembali mengalahkan kita dan meminggirkan kita dari sistem dunia yang secara keseluruhan banyak diatasi oleh sistem dan instrumentasi udara.

Di samping hidup di darat, maka di darat jauh lebih mudah mengkoordinasi udara yang terhubung langsung dan terbuka. Kalau kita pergi kemana pun di Nusantara (Indonesia) ini, kita memang menyeberangi lautan, tapi tujuannya adalah darat. Laut tidak lebih sebagai jalan, tetapi udara juga bisa menjadi jalan.  Jangkauan udara, di samping lebih cepat, juga dengan mudah memetakan sumber daya laut. Dibanding darat dan laut, udara tetap yang paling luas.

Tidak ada alasan yang penting untuk kembali membangun negara, apalagi budaya, kemaritiman. Memang, sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di pantai, masih mengandalkan laut. Akan tetapi, relevansinya untuk masyarakat yang bersangkutan. Sementara, sebagian besar yang lain, berbasis kota dan daratan, justru selama ini sebenarnya telah mengandalkan udara.

Sayangnya, budaya keudaraan (kedirgantaraan) tenggelam dalam paradigma kemaritiman. Kini sudah waktunya menguasai sistem dan instrumentasi udara, sekaligus budaya udara (dirgantara). Kita tahu, salah satu lambang negara kita yang terpenting adalah Burung Garuda, simbol keudaraan, bukan kelautan. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Doa Brengsek

Sambil duduk santai, ngerokok dan ngopi, kembali iseng-iseng mendengarkan pengajian Gus Baha. Kebetulan temanya soal doa. Beliau mengatakan doa terbaik tentu saja seperti yang diajarkan

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Yang Maha Menghibur

Belajar kepada Gus Baha, satu hal yang ingin saya simpulkan (mohon maaf jika tidak pas), adalah bahwa Allah itu sesuatu Yang Maha Menyenangkan. Akan tetapi,

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Trauma Kolektif

Banyak peristiwa atau kejadian yang dialami oleh seseorang atau bersama-sama. Mungkin di antara beberapa periswa tersebut menjadi semacam trauma. Artinya, peristiwa tersebut menjadi trauma atau

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Tubuh Ikhlas

Mungkin sebaiknya tulisan ini judulnya ikhlas (keikhlasan) dan kaitannya dengan tubuh. Akan tetapi, saya mau sedikit potong kompas dengan mengambil judul “ke arah kesimpulan”. Jadilah

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Pengkhianat Sebelum Indonesia

Anggaplah keberadaan Indonesia mulai disepakati pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bisa juga lebih awal sedikit pada masa kebangkitan nasional 20 Mei 1908, walau baru

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Said Aqil Siradj

Tidak seperti pada umumnya kiyai-kiyai NU yang jika ngisi pengajian atau ceramah pintar melucu, Kiyai Siradj tidak cukup tangkas jika melucu. Di beberapa tempat bahkan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin