Kretek: Ambivalensi yang Dilestarikan

Ketika diminta untuk membaca dan menulis pengantar untuk sebuah buku tentang kretek, saya mengharapkan banyak hal. Ketika selesai membacanya, saya memang mendapatkan banyak hal.  Buku Kretek Indonesia: Dari Nasionalisme dan Warisan Budaya adalah buku yang kaya, detil, informatif, dan diskursif. Tidak sekadar menelusuri dan mengungkap jejak-jejak kretek dalam sejarah, buku ini juga memancing gagasan-gagasan produktif melalui wacana-wacana yang dibangunnya tentang masa depan (dan) kretek.

Buku ini membawa kita pada kesadaran bahwa mempelajari kretek berarti juga mempelajari sejarah revolusi Indonesia dan sejarah perekonomian serta kehidupan sosial di (terutama) kota-kota Jawa. Yang paling menarik kemudian, buku ini juga membangkitkan sikap kritis dan optimis terhadap kretek, di balik segala kontroversi dan dinamikanya, memiliki karakter sebagai heritage atau warisan kebudayaan yang menandai identitas kebangsaan Indonesia.

Sebagai sebuah buku dengan perspektif sejarah, kekayaan data dan informasi di dalamnya adalah sebuah keharusan. Akan tetapi, yang menyebabkan sebuah buku sejarah perlu dibaca atau tidak adalah kesegaran intepretasi dan kejelasan posisi dan keberpihakannya.  Buku ini mengungkapkan relasi antara kretek  dan nasionalisme dengan pendekatan sejarah dan budaya di tengah-tengah begitu banyaknya penelitian mengenai kretek dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda. Seperti disinggung dalam bagian historiografi kretek buku ini, penelitian yang banyak itu seringkali menjebak kretek pada polemik sikap moral etik dari berbagai kalangan terhadapnya terkait untung ruginya bagi kesehatan.

Selain kecenderungan itu, kretek juga kerap dibicarakan sebagai sebuah industri dengan kacamata ekonomi. Memang ada beberapa tulisan yang mencoba membicarakan dan membela kretek sebagai entitas yang mandiri dan bebas, tetapi pembelaan itu seringkali hanya menjadi propaganda tanpa data. Buku ini ditulis dengan kesadaran untuk membincangkan kretek secara komprehensif dan mampu melingkupi seluruh pembicaraan yang sudah disinggung oleh penelitian-penelitian sebelumnya dengan bertolak dari satu hal  besar yakni nasionalisme.

Tesis utama buku ini terkait relasi antara kretek dan nasionalisme adalah bagaimana nilai-nilai ekonomi yang ada di balik industri kretek memiliki peran signifikan dalam proses revolusi kemerdekaan Indonesia. Seperti tertulis dalam salah satu bagiannya, buku ini  menjadi upaya dekonstruksi historiografi yang menempatkan sejarah industri rokok tidak hanya sebagai bagian dari aktivitas manusia sebagai economic-animal tetapi juga sebagai economic-nationalist.

Nasionalisme dan Ambivalensi Kretek

Persoalan besar relasi antara kretek dan nasionalisme yang otentis dan jarang disadari ini menginspirasi saya untuk berpikir lebih jauh tentang kemungkinan gagasan-gagasan yang bisa dipikirkan untuk memperluas jangkauan buku ini. Yang pertama tentunya persoalan nasionalisme itu sendiri. Berulangkali ditekankan dalam buku ini bahwa kretek mengambil peran penting dalam revolusi Indonesia. Kretek menjadi bagian dari semangat nasionalisme melalui kemandirian ekonomi yang dibangunnya demi memutus ketergantungan pada sistem ekonomi kolonial yang merugikan pribumi.

Seperti ditulis dalam buku ini, nasionalisme ekonomi mereka bercita-cita untuk memiliki properti yang dimiliki oleh bangsa dan fungsi-fungsi ekonomi yang dilaksanakan oleh bangsa sendiri. Lebih konkret lagi, industri Kretek Indonesia lahir dalam konteks sosial-politik tertentu, sebagai perjuangan ekonomi  kaum bumiputera berhadapan dengan kekuatan ekonomi kolonial yang tak bersahabat.

Pemahaman nasionalisme  yang dikaitkan dengan upaya-upaya industri kretek di masa revolusi ini kemudian diteruskan untuk memahami perkembangan industri kretek kontemporer. Ketika di awal kemunculannya, semangat nasionalisme melawan kolonialisme bangsa asing termanifestasikan dengan kemerdekaan ekonomi, maka asumsinya semangat nasionalisme industri kretek kontemporer tidak semata-mata tercermin dari program-program kepedulian demi membangun bangsa seperti yang diungkit buku ini. Nasionalisme pada masa kini diwujudkan dengan upaya-upaya untuk merdeka dari kekuatan kapital asing yang mendominasi (apalagi dalam industri kretek) yang kemudian dikenal sebagai neokolonialisme.

Yang dimaksud dengan neokolonialisme adalah kondisi di mana sebuah negara memiliki ketergantungan tinggi secara ekonomi/kultural terhadap negara lain. Ketimpangan pada masa kolonial dulu bergeser menjadi ketimpangan hubungan antara Negara-negara di dunia pertama dan ketiga[1]. Gagasan ini menjadi menarik dan penting untuk diuraikan ketika pada kenyataannya begitu banyak campur tangan asing terhadap keberlanjutan industri kretek di Indonesia.

Pandangan-pandangan berikutnya yang menarik untuk diperjelas adalah masalah ambivalensi sikap pemerintah Indonesia terhadap rokok. Dikatakan dalam buku ini, di satu sisi kretek menyumbang APBN yang begitu besar terhadap negara, tetapi di sisi lain keberadaannya terus menerus dipersulit, aturan-aturan dibuat seketat mungkin dan konotasi terkait aspek kesehatan tampak menyudutkannya. Alih-alih melihat ambivalensi sebagai satu problem yang terjadi antara pemerintah dan pengusaha kretek (melibatkan masyarakat di dalamnya), ambivalensi ini juga bisa dianggap sebagai strategi pemerintah terkait dengan kepentingan-kepentingan ekonomi.

Beberapa teoretikus ekonomi kontemporer menyusun sebuah konsep spirit ekonomi baru yang sering disebut sebagai cultural capitalism[2]. Prinsip utama spirit ini adalah menjual komoditas sekaligus bersamanya menjual kesempatan untuk meminimalisasi risiko dari sikap konsumtif itu (lihat konsep divine kretek yang juga disinggung dalam buku ini). Kopi Starbuck bisa dijadikan contoh yang paling mudah dan populer. Saat membeli secangkir kopi Starbuck, disadari atau tidak, kita membeli lebih dari sekadar secangkir kopi. Sebab kita tahu saat kita membayar lebih untuk secangkir kopi itu, kita sudah ikut berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan petani kopi (Starbuck membayar biji kopi lebih mahal dibandingkan dengan produk lain) dan menjaga ekosistem bumi dengan proses pengolahan produk yang minim limbah.

Gagasan yang sama bisa diterapkan ketika melihat bagaimana kretek terus diproduksi bersama dengan peringatan-peringatan bahaya terhadap kesehatan yang semakin diperketat. Pemerintah dan pengusaha (seringkali mereka adalah “satu” dan sulit dibedakan) menjual kretek, menerapkan pajak yang tinggi, menciptakan aturan-aturan tertentu terhadap distribusi dan advertasinya agar kretek bisa terus dijual tanpa menciptakan “rasa bersalah”. Berbagai industri kretek menawarkan racikan-racikan tertentu yang variasinya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kesehatan ataupun penyehatan lingkungan.

Pengusaha kretek dan pemerintah justru harus terus melakukan ini (sesuatu yang disebut ambivalensi) untuk menjaga dan meningkatkan konsumen kretek. Yang mereka butuhkan bukan sekedar kretek, melainkan kretek beserta pertimbangan etiknya. Jadi, alih-alih menganggap sikap-sikap pemerintah terhadap kretek mendua, lebih menarik menganggap bahwa tidak ada ambiguitas di sini karena dua hal yang tampak bertentangan itu justru menjadi elemen dasar lestarinya sistem kapital mereka.

Bentuk dan Isi

Selain wacana-wacana yang dilontarkan sebagai hasil dari intepretasi data mengenai kretek yang menarik, buku ini juga disajikan dalam struktur penulisan yang boleh dikata ”melingkar bak spiral”. Oleh karena hasil tulisan bersama, maka tidak mengherankan ada berbagai jenis dan bentuk tulisan dalam buku ini. Pada bab-bab awal, tulisan disampaikan seperti halnya laporan penelitian. Kemudian, beberapa esai tentang kretek dilampirkan pada bagian akhir. Pembicaraan mengenai struktur dan bentuk penyajian buku ini menjadi penting karena bagaimanapun bentuk tidak bisa dilepaskan dari isi dan keduanya berhubungan dalam determinasinya masing-masing. Oleh karena itu, ada baiknya ditelusuri lebih dahulu susunan buku ini dari bagian awal sampai akhir sebelum kemudian menyimpulkan berbagai kemungkinan terkait dengannya.

Bab pertama buku ini menguraikan tentang latar belakang penulisan sejarah kretek dalam relasinya dengan nasionalisme dan sistem ekonomi kolonial. Bagian ini juga mencantumkan dengan rinci historiografi penelitian ataupun tulisan-tulisan tentang kretek yang sudah terbit sebelumnya. Pada bagian selanjutnya, pembahasan mengenai kretek dan kolonialisme semakin diperinci. Mulai dari gonjang ganjing perekonomian Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 sampai munculnya pengusaha-pengusaha pribumi termasuk industri kretek dan peran serta mereka dalam pergerakan nasional.

Bab ketiga merupakan lanjutan kronologis dari bab sebelumnya. Bagian ini dengan sangat detil menguraikan perkembangan industri kretek pada masa kemerdekaan, organisasi-organisasi pengusaha kretek, sikap pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya, dan kontribusi industri kretek terhadap kemajuan bangsa Indonesia mutakhir. Sampai dengan bagian ini, struktur buku tersusun dengan baik. Alur materi dirunut berdasarkan yang umum menuju khusus dan juga kronologis. Namun, bagian empat seperti muncul tidak sebagai bagian dari rangkaian bab-bab sebelumnya. Bagian empat berbicara tentang sejarah kretek di dunia, perkembangan dan proses-proses masuknya budaya menghisap kretek di Nusantara sampai dengan aspek-aspek dari kretek yang menjadikannya memiliki potensi sebagai heritage atau warisan budaya dan bisa menjadi salah satu penanda identitas di Indonesia.

Dalam pengamatan yang singkat, bagian ini ada baiknya ditempatkan pada awal perbincangan. Namun, dalam pembacaan yang lebih mendalam, saya menyadari bahwa susunan tulisan ini tidak hanya dimaksudkan menjadi laporan yang kronologis dan tertutup dari awal sampai ujung. Ada kalanya, sebuah tulisan dihadirkan dengan cara tertentu untuk menimbulkan kesan dan respons tertentu. Tulisan yang seolah melingkar ini, belum lagi lampiran esai-esai panjang tentang kretek di bagian akhirnya, menjadi inovasi yang membuat buku ini bukan merupakan buku teks sejarah semata-mata.

Melalui jenis tulisan dan cara penyampaian yang luwes, buku ini menjadi teks terbuka yang membuatnya mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan sekaligus memungkinkan munculnya gagasan-gagasan baru di pikiran mereka. Buku ini mampu keluar dari pola-pola baku penulisan sejarah yang bagi saya pribadi merupakan kelebihan utamanya di saat buku-buku sejarah pada umumnya sulit menghindari ”perangkap akademis”seperti itu.***


[1] Bacaan lebih lanjut bisa dilihat di McClintock, A. 1992. “The Angel of Progress: Pitfalls of the Term ‘Postcolonialism’”, Social Text 31/32. Hlm. 84-98; lihat juga Loomba, Ania. 2000. Colonialism/Postcolonialism. New York: Routledge.

[2] Deskripsi lanjut tentang cultural capitalism bisa dilihat di Luc Boltanski dan Eve Chiapello. 2005. The New Spirit of Capitalism. London: Verso.

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin