Generasi Baru dan Masa Depan

Setiap satu periode waktu, setiap terdapat berbagai perubahan budaya, teknologi, politik, dan ekonomi, akan muncul generasi baru, dengan berbagai namanya. Baru saja muncul generasi milenial, kini telah dihembuskan apa yang disebut sebagai generasi Z. Kita menjadi tahu bahwa periodisasi generasi semakin pendek dan memiliki karaker tersendiri. Di antara generasi tersebut mungkin masih terdapat kesamaan, tetapi mungkin juga perbedaan.

Tulisan ini mencoba mempersoalkan perbedaan generasi sebelum milenial dan generasi baru (pasca milenial yang kini masih anak-anak dan remaja). Persoalan yang ingin dijelaskan adalah, pertama, bagaimana kaitan generasi sebelumnya dan generasi baru dengan masa depan budaya-bangsa sebagai identitas. Kedua, dalam konteks tersebut bagaimana masa depan kebudayaan lokal-lokal (nusantara).

Salah satu perbedaan yang cukup signifikan dari generasi sebelum dan setelah milenial adalah ketika generasi tersebut dibesarkan oleh apa yang disebut sebagai place (tempat) dan space (ruang). Mereka yang hari-hari ini berumur di atas 40 tahun, boleh dikata mereka yang besar dalam place. Mereka besar dalam ruang-ruang empirik (off line) sehingga kesadaran yang terbangun lebih sebagai satu kesadaran berdasarkan “pengalaman nyata”. Generasi ini masih memiliki kedekatan dengan ruang-ruang domestik dan lokal. Dengan kata lain, mereka lebih “lokal” dibanding generasi baru.

Terdapat generasi perantara, generasi milenial, yakni mereka yang hari-hari ini berumur antara 40 tahun hingga 21 tahun. Mereka adalah generasi yang masih mengenyam place dan juga mulai kenal space. Kelak mereka akan berposisi sebagai generasi yang memediasi antargenerasi, pada masa-masa periode emas mereka, yakni ketika mereka, yang dimulai pada waktu-waktu ini hingga 20 tahun mendatang. Karena pada 20 tahun mendatang, generasi baru hari ini mulai menemukan periode emas mereka.

Generasi milenial memperlihatkan “keterbelahan”. Di satu sisi mereka memiliki perhatian dengan lokalitas dan upaya domestifikasi budaya, tetapi di lain sisi mereka juga menikmati dan mengonsumsi budaya global. Saat ini, merekalah yang sedang memediasi dengan generasi sebelumnya. Dalam situasi tersebut, generasi milenial menjadi penting karena berdiri di antara dua kekuatan generasi. Kalau melihat gerak-gerik dan kegelisahan generasi milenial, tampaknya ada keberpihakan terhadap budaya lokal, sehingga sebagian besar di antara mereka terlihat mendukung strategi kebudayaan dan politik identitas yang sedang didorong oleh pemerintah, terutama lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Generasi baru (biasa juga disebut generasi Z) hari-hari ini adalah mereka yang dibesarkan secara space (on line). Memang,  mereka cenderung besar dalam ruang on line dan secara relatif persentuhan empirik mereka lebih sedikit dibanding mereka yang besar dalam place (off line). Sangat mungkin persentuhan generasi baru dengan sesuatu yang lokal dan domistik tidak secara langsung, tetapi dalam ruang non-empirik (space/on line). Mereka besar dalam ruang space yang serba global. Semua hal ada dalam ruang global tersebut, termasuk hal-hal lokal.

Artinya, perbedaan lokal dan global tidak menjadi penting bagi generasi baru tersebut, karena mereka secara on line merupakan warga global. Dalam kondisi ini persoalan identitas menjadi penting dipertanyakan. Pertanyaannya, dalam ruang global tersebut siapakah mereka generasi baru kita, generasi baru Indonesia? Apakah mereka merupakan warga global yang masih bisa melokal? Atau masihkah identitas lokal menjadi sesuatu yang signifikan dalam ruang global sehingga mampu membentuk karakter-karater lokal dan lokalitas menjadi basis penting bagi identitas generasi baru Indonesia.

Pertanyaan tersebut terkait dengan persoalan mau dibawa ke mana budaya-budaya lokal kita, sebagai identitas, dalam space yang mengglobal tersebut. Dalam situasi tersebut, terdapat tiga kecenderungan. Pertama, tampaknya politik, strategi, dan kebijakan pendidikan kebudayaan negara, melalui Pemerintah Daerah, dan lebih khusus lagi pendidikan di sekolah-sekolah telah memperlihatkan alur strategis terhadap penguatan budaya lokal. Memang, jalur ini dirasakan sangat berat di tengah kuatnya arus budaya global dan kapilitalisme modern. Hal yang terjadi adalah hal kedua berikut.

Kedua, kekuatan budaya global dan kapitalisme modern memperlihatkan kecakapannya berhadapan dengan resistensi budaya lokal. Hal ini diperlihatkan ketika globalitas dan kapitalisme modern justru mengakomodasi budaya lokal untuk menjadi bagian dari representasi kebudayaan dunia sehingga seolah-olah tidak ada beda antara lokalitas dan globalitas. Berbagai kecendernungan ini terjadi di antara dua pihak, baik mereka yang berdiri dalam budaya global menggakomodasi lokalitas, atau mereka yang lokal mengakomodasi budaya global/modern.

Kecenderngan kedua ini cukup banyak terjadi. Munculnya istilah-istilah lokalitas yang mengglobal, atau budaya global berbasis lokalitas dapat ditempatkan dalam posisi ini. Jangkauan hibriditas budaya tersebut tidak sama antara satu daerah dengan daerah lain. Hal tersebut tergantung kebijakan dan kekuatan budaya di daerahnya masing-masing. Wajah paling representatif tentang kecenderungan ini dapat dilihat dari berbagai festival dan karnaval yang terjadi di berbagai daerah. Namun, bukan berarti persoalan ini tidak memberikan kecemasan tersendiri. Karena banyak daerah, tampaknya, memperlihatkan menguatnya modernitas dan kapitalisme. Dari segi pembangunan misalnya, wajah kekhasan daerah semakin kehilangan warna lokalnya.

Ketiga, di antara dua situasi di atas, masih terdapat daerah-daerah yang berusaha mempertahankan “keaslian” budaya lokalnya. Di Yogyakarta, misalnya, kecenderungan untuk mempertahankan tradisi yang dianggap “paling Yogyakarta” menjadi kebijakan budaya yang dipertahankan dan semakin menguat. Di tengah arus budaya modern yang mengglobal, budaya Yogyakarta yang berbasis tradisi memperlihatkan geliat yang signifikan. Memang, tentu saja arus seperti yang terjadi dalam kecenderungan kedua juga terjadi. Inilah apa yang biasa disebut sebagai kontestasi budaya.

Generasi baru hidup dalam berbagai kecenderungan di atas. Masalahnya adalah ruang on line merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari generasi Z tersebut. Dalam situasi tersebut, tidak ada jalan lain kecuali pendidikan di era baru ini, pendidikan era abad ke-21 ini mengintervensi ruang on line tersebut menjadi kekuatan baru untuk berbagai proses konsolidasi kebudayaan. Hal tersebut sebetulnya sudah dimulai. Akan tetapi, intervensi tersebut perlu dilakukan secara lebih sistematis, terprogram, dengan muatan berbasis tradisi lokal yang terarah dan teratur, sesuai dengan algoritma dan tuntutan budaya on line.

Jika itu yang terjadi, maka sebetulnya tidak ada yang perlu dicemaskan terhadap keberadaan dan posisi generasi baru tersebut di depan. Bukan saja masa depan adalah milik mereka, tetapi yang jelas generasi baru jauh lebih memiliki kekuatan dan kecakapan global terhadap masa depan yang tidak dapat dihindari tersebut. Apapun yang terjadi, langkah-langkah strategis kita hari ini sedikit banyak ikut menentukan masa depan. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin