Sejarah Kata, Puisi, Rasa Berbahasa

Kata-kata memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Dari kemunculannya, konteks penggunaannya, hingga tujuan penggunaan yang beragam. Satu kata yang sama, bisa bermacam-macam artinya.

Ketika kata memasuki ruang tertentu, kata yang sama menjalani sejarahnya secara berbeda di dalam ruang yang lain. Ada banyak ruang yang dialami atau dijalani kata-kata. Ada ruang global, nasional, lokal,  ruang keluarga, ruang akademik, ruang pertemanan, bahkan ruang pribadi. Setiap ruang, memiliki sub-ruang dan sub-sub-ruang tersendiri. Demikian kompleksnya bagaimana kata perlu diartikan, dimaknai, bahkan dirasakan.

Tulisan pendek ini mencoba menjelaskan kasus kata dalam Bahasa Indonesia, dalam konteks ruang nasional, dalam sub-ruang politik. Kata-kata tersebut dicoba direferensikan dalam ruang sastra, dalam konteks sub-ruang sastra, yakni puisi. Lebih lanjut, dalam ruang tersebut, dilanjutkan sebuah refleksi rasa berbahasa, lebih tepatnya “ sejarah rasa” berbahasa.

Jika dalam sejarah ada ruang-ruang zaman, atau periodisasi, maka akan dikenal ruang zaman prasejarah, zaman purba, zaman kuno, zaman kolonial, zaman pasca kolonial. Istilah zaman bisa beragam, tergantung ruang yang mana yang akan dimaknai. Itulah sebabnya, ada penyebutan zaman kuno, zaman modern. Bahkan ada pula penyebutan zamam revolusi, zaman Orde Lama, zaman Orde Baru, bahkan zaman Reformasi, dan sebagainya.

Secara politik kekuasaan, itu pula yang biasa disebut sebagai rezim diskursif kebahasaan. Penggunaaan, pemanfaatan, dan pemaknaan kata-bahasa disituasikan oleh satu kuasa diskursif sehingga  “politik arti” kata bergantung pada order kuasa politik pada masa rezimnya.

Dalam sejarah dan ruang atau sub-ruang yang berbeda tersebut, kata-kata juga mengalami pemaknaan dan “perlakuan” yang berbeda-beda. Mungkin ada kata-kata tertentu yang secara relatif mendapatkan perlakuan yang sama, tetapi tetap saja ada yang berbeda. Hal itu tergantung fungsi dan keberadaan kata itu dalam penggunaan dan strukturnya. Kata-kata seperti dan, atau, yang,  mungkin akan mengalami sejarah dan fungsi yang sama, tetapi tidak pada maknanya.

Telah disinggung, setiap zaman memiliki rezim yang menguasai atau yang memonopoli makna. Pada zaman modern, sub-ruang nasional, sub-sub-ruang Orde Baru, sebagian besar tafsir terhadap kata, kalimat, dan pemaknaan dimonopoli oleh rezim tersebut. Kata dan kalimat mengalami pemaknaan dalam kepentingan rezim. Yang berbeda dianggap salah dan berbahaya.

Tentu ada tafsir dan makna tersembunyi, dan biasanya tidak cukup dikenal oleh masyarakat. Atau, mungkin juga dikenal, tetapi kita tidak berani mengakuinya secara terang-terangan. Ada perasaan sedikit tidak nyaman. Walaupun, kemudian, semua hal tersebut sekarang sudah berubah. Karena rezim diskursifnya juga sudah berubah.

Kalau kita melihatnya sekarang, sambil sedikit nostalgia, Orde Baru tidak membangun masanya sebagai suatu yang menyenangkan, membahagiakan, apalagi sesuatu yang disebut sebagai keindahan. Kenangan dan rasa-zaman terhadap sub-sub-ruang tersebut adalah sesuatu yang kaku, politis, serba diatur, dan tegang. Mungkin kehidupan ekonomi dan politik terkesan stabil, tapi terbukti semu.

Hal tersebut berdampak terhadap perjalanan kata yang terlanjur dibumbuni dan dimasak dalam sub-sub-ruang tersebut. Ini yang sangat berdampak dalam penulisan karya sastra, khususnya puisi. Memang, puisi sebagai sub-sub ruang, dalam puisi itu sendiri ada sub-sub-sub ruangnya tersendiri, yang kemudian dikenal dengan genre-genre dalam puisi. Itulah sebabnya, kemudian dikenal ada puisi lirik, kritik sosial, relijius, dan sebagainya. Akan tetapi, karakter umum dari tujuan puisi adalah bagaimana membangun kata, frasa, atau kalimat dalam satu arsitektur keindahan.

Berdasarkan pengalaman bergulat dengan puisi, terdapat sejumlah kata atau frasa yang karena aroma bumbu sub-sub ruang Orde Baru demikian kental, maka kata tersebut tidak mampu mendukung keindahan puisi. Bahkan kata-kata yang berhubungan dengan sub-sub-ruang tersebut tidak mampu membangun atau memberikan rasa bahasa yang indah. Kata-kata atau frasa tersebut misalnya; orde lama, orde baru, reformasi, kolusi, nepotisme, undang-undang, pembangunan, hukum, manusia seutuhnya,  dan sebagainya

Tentu ada sub-sub ruang lain yang ikut menggodog perjalanan kata sehingga hasil masakannya menghilangkan rasa keindahan berbahasa. Sub ruang agama, sub ruang pendididan, yang aroma tuntutan terhadap kertertiban dan kebaikan warga, agar patuh terhadap negara/agama, menciptakan verbalitas. Kata masuk ke ruang verbal yang tidak membangun imaji keindahan.

Hal ini pula yang menyebabkan banyak puisi terjebak dalam “genre” verbal yang membosankan dan memandulkan makna. Konsep sastra atau puisi sebagai sesuatu yang bermakna, sebagai praksis puitik, mengalami pengamputasian yang luar biasa. Puisi menjadi impoten tidak mampu menanggung beban keindahan yang seharusnya bisa membawa ke ruang yang lebih besar.

Sayangnya, proses-proses tersebut terus terjadi dan mulai merambah kata-kata lain yang dimasak oleh para peracik kata yang tidak mau belajar keras bagaimana memahami dan merasakan sejarah perjalanan kata. Peracik kata yang latah untuk sekedar tampak eksis, tetapi tidak menyadari apa yang dikerjakannya adalah proses pendangkalan makna, pendangkalan kemampuan berbahasa untuk berpikir dan merasakan dalamnya misteri manusia dan kehidupan.

Dengan demikian, jika kita ingin membuat sejarah perjalanan sastra, khususnya prosa dan puisi, tidak adal salahnya berdasarkan sejarah perjalanan kata itu sendiri. Sebaiknya, istilah perkembangan juga perlu dipertimbangkan kembali. Seolah perjalanan sastra adalah sesuatu yang menuju perkembangan dalam konotasi semakin baik dan kompleks.

Selama ini, periodisasi sastra Indonesia, didominasi oleh perjalanan sejarah politik atau perjalanan sejarah sosial, bukan berdasarkan perjalanan bahasa atau kata itu sendiri. Jika ini bisa kita lakukan, akan banyak temuan-temuan yang menarik dan penting.

Rasa Berbahasa

Dari berbagai kecenderungan pemakaian kata-bahasa dalam praktik sehari-hari, menjadi tahulah kita konstruksi “selera berbahasa” yang mana yang telah menguasai diri kita. Hal ini perlu diingatkan kembali karena, secara umum, sebetulnya ada tiga lapis bahasa dalam diri kita, yakni bahasa Ibu (lokal), bahasa nasional, dan bahasa non-lokal non-nasional (asing). Implikasi dari pilihan berbahasa itu secara langsung juga memposisikan identitas seperti apa yang kita ambil.

Memang, belum ada data statistik yang pasti berkaitan dengan bahasa yang mana yang dominan kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Catatan ini hanya berdasarkan pengamatan umum, dalam ruang-ruang yang berbeda. Di kampung-kampung/lokal tertentu, jika suatu pembicaraan bersifat “komunalitas”, maka bahasa Ibu masih cukup dominan. Akan tetapi, saat ini kampung yang bersifat komunalitas semakin sedikit, karena warga Indonesia berhak hidup di mana saja.

Pada kampung/lokal tertentu yang sudah tidak bersifat komunalitas, ada upaya penggunaan bahasa nasional. Kita menjadi tahu bagaimana Bahasa Indonesia tersebut dipraktikkan; campur baur. Hal yang menarik adalah praktik penggunaan bahasa nasional itu sudah melalui rasa dan cara pandang bahasa lokal. Untuk artikulasi dan penekanan konteks komunikasi tertentu, bahasa lokal akan dirasakan menjadi lebih cocok/pas dalam komunikasi itu.

Fakta itu memperlihatkan masih cukup kentalnya aroma dan muatan kultural dalam aspek berkomunikasi yang bersifat kelokalan. Warga atau masyarakat kampung masih bertahan dan mencoba mempertahankan bahasanya agar tidak terseret ke dalam perasaan dan cara “bahasa kota”. Penggunaan bahasa dalam komunikasi yang melibatkan perasaan, maka tidak ada bahasa lain yang paling pas selain bahasa Ibu (lokal). Konversi-konversi ke bahasa Indonesia masih dimungkinkan dalam perasaan berbahasa yang sangat tidak memadai.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah bagaimanapun juga janganlah terlalu berharap praktik penggunaan bahasa nasional warga kampung/lokal itu akan baik dan benar. Dalam kasus itu akan terbukti bahwa penggunaan bahasa nasional terkepung dalam konstruksi bahasa lokal dan bahasa non-lokal non-nasional.

Kejadian berlanjut, begitu banyak bahasa asing yang kemudian dijadikan bahasa nasional. Yang terjadi adalah bagaimana bahasa yang mulanya bahasa asing, kemudian dinasionalkan, kata asing yang dinasionalkan itu digunakan oleh seseorang dalam perasaan bahasa Ibunya.  Kadang, secara rasa budaya, ada hal yang selalu tidak pas.

Pada ruang lain,  bagi masyarakat perkotaan dan kelas menengah, bahasa Indonesia cukup dominan digunakan. Percampurannya biasanya bahasa asing yang sudah di Indonesiakan, atau mungkin masih dalam bahasa asingnya. Yang menarik, saya menduga rasa berbahasa Ibu/lokal mungkin semakin tertepis. Praktik berbahasa itu bukan semata secara langsung terkait dengan perasaan berbahasa, tetapi justru persoalan identitas agar masuk menjadi warga Indonesia yang modern. Di sini, “fungsi” bahasa Indonesia telah berjalan dengan baik.

Namun, bisa saja yang terjadi adalah rasa berbahasa yang bersifat perasaan dalam konteks ikatan emosional dengan ruang  bahasa Ibu sudah hilang. Atau, yang terjadi adalah sudah banyak dari masyarakat Indonesia yang bahasa Ibunya bahasa Indonesia. Dalam konteks nasionalisme kebangsaan, tentu fenomena ini boleh saja disyukuri.

Akan tetapi, konteks rasa berbahasa bukan persoalan fungsi bahasa.  Ini persoalan rasa bahasa manusia dan kemanusiaan. Rasa bagaimana kata dan bahasa diberi kekuatan agar memiliki kandungan dan tenaga keindahan berbahasa,  menyimpan emosi-emosi, menyimpan nostalgia-nostalgia yang membahagiakan.

Yang menjadi masalah terutama berkaitan dengan kelengkapan kultural bahasa Indonesia bila dibandingkan dengan, misalnya, Bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki kelengkapan dan detil yang sangat memadai terhadap banyak hal. Hal itu diperlihatkan dengan jumlah kata yang lebih banyak dibanding Bahasa Indonesia. Sebagai misal lagi, banyak penulis sastra yang berasal dari Jawa mengalami kesulitan menulis puisi dalam bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia tidak pernah cukup memadai dalam menampung perasaan dan imajinasinya.

Persoalan yang perlu dicermati adalah hilangnya kemampuan rasa, bahkan imajinasi berbahasa ketika penambahan kosa kata bahasa nasional justru bukan dari lokal-lokal. Jika itu terkait dengan kosa kata modern yang memang tidak ada dalam banasa lokal, apa boleh buat. Tetapi, secara kultural kita tidak dibesarkan dalam bahasa non-lokal non-nasional. Di samping itu, justru ruang kelokalan yang memiliki rasa berbahasa, yang akan menjaga warwah identitas dan martabat kita. Menjadi warga Indonesia modern tidak ada masalah, tetapi yang menjaga warwah budaya kita adalah ketika kita tetap dalam posisi sebagai orang yang memiliki kebanggaan terhadap bahasa Ibunya. Bahasa Ibulah yang menampung dan memelihara semua ikatan emosional dan kultural kebudayaan kita. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin