Filosofi Kereta Api Puspaka

Oleh: Dr. Aprinus Salam dan Herman Sinung Janutama

Sejarah

Sejarah kereta api di Indonesia atau khususnya di pulau Jawa terkait dengan kepahlawanan Kangjeng Pangeran Dipanegara. Pemasangan rel melintasi Malioboro dan Tegalrejo memaksa Belanda untuk memohon kepada Kraton Ngayogyakarta, yakni agar berkenan mengizinkan Belanda menggunakan sebidang tanah yang menjadi setasiun Tugu sekarang ini. Peristiwa ini sekitar tahun 1820[1] masehi dan berujung dengan pecahnya peperangan Jawa atau peperangan Dipanegara sekira 1825-1830. Pemasangan rel melintangi pulau Jawa memang sarat dengan kerja paksa, kekerasan, perang, dan kekuasaan penjajah yang sewenang-wenang.

Gb. 1. Setasiun Tugu, Yogyakarta

Awal abad 20, era pergerakan nasional, kereta api juga menjadi sarana transportasi yang rasis dan elitis. Gerbong untuk penumpang berdarah Belanda dan pejabat kolonial berbeda dengan gerbong untuk pribumi[2]. Kereta api hanya untuk melayani kepentingan transportasi elit penguasa dan penjajah. Namun tidak nyaman dinaiki masyarakat warga biasa.

Gb. Sepur Kluthuk

Tembang “Sepur Kluthuk”

Wiwit bangun esuk
Nganti wayah sore
Durung tekan nggone
Adhuh lae, adhuh lae
E, bola-bali madheg
greg greg greg
Saben warung dilereni
Neng ati seneng
Suwe, suwe, suwe, suwe, suwe
Mudhun gerbong awak kesel dadi bungah
Kruk kruk greg greg kruk kruk jenggleng
Kruk kruk greg greg kruk kruk jenggleng

Naik kereta api kluthuk
Mulai pagi hari sampai sore hari
Belum juga sampai tujuan
Adhuh lae, adhuh lae
E, berhenti berkali-kali greg, greg, greg
Berhenti disetiap warung hati jadi gembira
Lama, lama, lama sekali
Tapi begitu turun dari gerbong hati menjadi senang
Kruk kruk greg greg kruk kruk jenggleng

Di era perjuangan kemerdekaan kereta api juga terkesan seram, dingin, dan kejam. Kereta api menjadi moda transportasi untuk mengangkut ribuan tahanan perang Belanda dan Jepang.

GB. 2. Merdeka atau Mati.

Citra kereta api zaman perang kemerdekaan masih terkesan sangat maskulin. Kereta api menjadi moda transportasi yang kejam, keras, dingin, dan tidak ramah ini, sudah semestinya berubah. Setidaknya seperti era milenial sekarang ini. Kereta api harus menjadi moda transportasi yang feminin. Yakni keibuan dengan layanan yang tulus, ramah, nyaman, melayani sepenuh hati, berteknologi tinggi, namun tetap terjangkau oleh masyarakat luas.

Naik kereta api tut, tut, tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya
Ayolah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama

Lagu yang lazim dinyanyikan oleh kalangan anak-anak Indonesia ini, seakan mendiskripsikan harapan-harapan dan perkembangan perkereta-api-an Indonesia. Lagu ciptaan Ibu Soed ini secara langsung mendiskripsikan kereta api yang feminin.

Gb. 3. Kereta Api Wijaya Kusuma

Nama-nama Kereta Api

Penamaan kereta api Indonesia dewasa ini secara umum sudah memenuhi harapan di atas. Namun sasarannya mungkin berkaitan dengan kekayaan dan keindahan alam Indonesia. Penamaan kereta api Indonesia mengusung kemegahan alam Nuswantara. Nama-nama kereta api yang bernuansa gunung seperti Argo Wilis, Argo Bromo, Arga Dwipangga, Argo Lawu, Sancaka, dll. Atau bernuansa sungai-sungai seperti Serayu, Bogowonto, Brantas, Bengawan Solo, dll. Bernuansa kekayaan alam seperti kereta api Mutiara Selatan dan Mutiara Utara. Nuansa kekayaan budaya seperti kereta api Pasundan, Bima (Biru Malam, angin), Kamandaka (Putra Prabu Siliwangi), dll. Itulah sebabnya, penamaan bernuasa bunga menjadi penting.

Sejatinya preseden untuk menggunakan nama bunga-bunga untuk nama kereta api sudah muncul. Misalnya kereta api Wijaya Kusuma, Anggrek Pagi, Anggrek Malam, dll. Penamaan bernuansa bunga seperti itu sudah baik, sehingga harus dilanjutkan dan dieksplorasi dengan seksama. Penamaan bernuansa bunga ini seyogyanya kaya dengan nilai kesejarahan tertentu. Bukan nuansa bunga yang diambil secara lepas dan acak. Kadar kulturalnya juga bernilai tinggi karena memiliki kelengkapan kosmologi, dan filosofi tertentu.

Hal demikian itulah yang ingin dicapai oleh nama kereta api Puspaka. Kata puspaka berasal dari dua kata Kawi puspa dan paka. Puspa artinya bunga. Puspa atau bunga menjadi perlambangan seutuhnya dari sifat-sifat feminin, ramah, dan keibuan. Feminitas ini juga memiliki sifat memberikan pelayanan tulus dan terbaik. Makna luasnya puspa sebagai diskripsi wanita yang binangkit, trengginas, lincah, dan trampil. Sedangkan kata Kawi paka artinya tulus, jernih, dan bersih. Kereta api Puspaka memiliki makna sebagai kereta api yang higienis, sehat, bersih, dan mampu memberikan pelayanan terbaik dan tulus kepada masyarakat.

Pewayangan

Puspaka dalam pewayangan menjadi nama kereta kencana Prabu Rama. Yakni ketika Prabu Rama memasuki Alengka demi menjemput Dewi Sinta. Terdapat hal menarik dari epos ini. Kereta kencana Puspaka awalnya adalah adalah kereta Alengka dari Prabhu Rahwana. Namun, setelah perang besar Ramayana, Alengka diduduki Prabhu Rama. Prabhu Dasamuka berhasil dikalahkan. Dan kereta kencana Puspaka disempurnakan oleh Prahu Rama dan digunakan untuk menjemput Shinta. Kereta kencana Puspaka yang semula garang, digdaya, dan maskulin, berubah karakter penuh dengan hiasan dan feminin.

Gb. 5. Kereta Kencana Puspaka

Kereta api Puspaka menjadi perlambangan karakter kereta api Indonesia. Dari masa lalu yang seram, menjadi kereta api yang lembut, nyaman, sehat, dan bersih. Warna kereta api Puspaka juga mengacu warna-warna feminin: jambon, kuning, putih, dan biru langit. Ornamennya kaya dengan motif kembang-kembang, seperti kembang lili, nusa indah, melati, kantil, kenanga, mawar, dllsb. Penamaan kereta api Puspaka itu sangat tepat dan strategis. Bahkan tepat bila implikasinya berkelanjutan. Terutama terhadap produk-produk layanan kereta api lanjutan (ikutan).

Feminitas

Feminitas dimaksud di atas adalah sesuatu bahasan penting. Feminitas terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan sesuau bangsa. Dalam khasanah Nuswantara kebudayaan tumbuh dan berkembang menuju peradaban yang semakin halus, semakin tulus, semakin bersih dan sehat. Feminitas layaknya sifat keibuan yang melandasi setiap dinamika peradaban suatu bangsa. Terdapat pepatah wong Jawa (Nuswantara) kuwi wadon. Artinya, manusia Nuswantara itu feminin.

Sepanjang sejarah peradaban Nuswantara, istana pusat pemerintahan umumnya disebut sebagai keraton. Kata Kawi keraton ini kata dasarnya adalah ratu, dengan imbuhan ke-an. Ratu arti harfiahnya adalah raja perempuan, similar dengan ratu-ratu di seluruh dunia. Misalnya Ratu Elizabeth (Inggris), Ratu Beatrix (Belanda), dll. Dalam khasanah Kawi makna ratu jauh lebih luas. Yakni meliputi keseluruhan konsep kepemimpinan dan pemerintahan peradaban. Siapapun sultan atau raja, lelaki ataupun perempuan, harus memangku sifat ratu. Karenanya bertempat tinggal di dalam ke-ratu-an atau keraton.

Gb. 7. Keraton Kasepuhan Cirebon.

Konsep ratu ini juga bisa dilihat dalam candi-candi berstruktur simbol hinduisme. Misalnya candi Prambanan, candi Sambisari, candi Gedongsongo, dll. Di salah satu dinding tubuh candi terdapat relung arca yang disebut sebagai Durga Mahesa Sura Mardhini. Arca ini bukan persimbulan dari raja perempuan, namun pemimpin yang feminin. Raja yang bersifat keibuan yang among, asah, asih, asuh, dan mampu membimbing serta mendidik rakyatnya. Durga artinya kepemimpinan ratu. Mahesa artinya kepemimpinan yang kesatria. Sura artinya kepemimpinan yang gagah berani. Mardhini artinya kepemimpinan yang membimbing dan mendidik rakyatnya.

Gb. 8. Arca Durga Mahesa Sura Mardhini

Konsep ratu pada candi-candi berstruktur simbol Buddhisme, misalnya pada candi Kalasan, dan candi Barabudhur. Terdapat arca buddha yang bernama Ratna Sambawa atau bisa juga disebut Avalokitesyvara. Arca ini merupakan perlambangan perempuan yang telah mencapai kesempurnaan manusia atau insan kamil. Atau maknanya secara luas mencakup manusia sempurna yang mencapai feminitas. Yakni sifat keibuan. Dengan kata lain, ummi bagi ummah atau ibhu bagi bhumi.

Gb. 9. Arca Ratna Sambhawa

Kesimpulan

  • Pengambilan nama Kereta Puspaka sudah sangat tepat, strategis, dan bernilai tinggi.
  • Kebudayaan kita harus didorong menjadi budaya yang halus, tulus, jernih, dan bersih.
  • Simbol-simbol penamaan tersebut diharapkan mengingatkan dan menyadarkan kita pada budaya kehalusan, ketulusan, kejernihan, dan kebersihan.

Referensi

  1. KGPAA Mangkunegara IV, Wedhatama, tt.
  2. Kangjeng Susuhunan Pakubuwana IX, Wulangreh.
  3. Kyai Syuja’, Islam Berkemajuan, Al Wasath Publishing House, 2009.
  4. -, Candi Prambanan dan Umat Hindu, dihimpun dan diterbitkan oleh DPD Tk I., Bali Peradah (Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia), 1993.
  5. Sumodidjaja Mahadewa, Kitab Primbon Atassadhur Adammakna Sambetanipun Betaljemur, CV Buana Raya, Solo, 2013.
  6. RM Arya Sutirta, Paribasan Katrangake Sarana Dongeng, Bojonagoro, Penerbit Batavia Landrukkerij, 1916.
  7. FS Darmasoetjipta, Kamus Peribahasa Jawa, Kanisius, Yogyakarta, 1985.
  8. Herman Sinung Janutama, Pisowanan Alit, MMP, Yogyakarta, 2009, 2011.

[1] Mohammad Yamin, Sejarah Peperangan Dipanegara, Balai Pustaka, tt.

[2] Catatan Kyahi Haji Ahmad Dahlan dalam buku karya Kyai Syuja’ berjudul, Islam Berkemajuan.

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin