Aku dalam Mitos-mitos Modernisme

Sebagai Konstruksi Wacana

Dalam perjalanan hidup kita, karakter dan identitas masyarakat, dan terutama aku (subjek), dikonstruksi oleh berbagai wacana yang dialaminya. Wacana adalah sekumpulan pernyataan, baik berupa berita, cerita, fiksi, nasihat (agama dan etik sosial), maupun berbagai pernyataan lainnya, yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan identitas seseorang. Wacana hidup di dalam suatu konteks dan peristiwa yang berkesinambungan.

Secara inheren, wacana mengandung ideologi. Ideologi adalah nilai-nilai yang biasanya menjadi praktik sosial dalam kehidupan. Ideologi tersimpan dalam “bawah sadar”. Apalagi jika hal itu bersifat hegemonik. Dalam praktiknya, tanpa disadari, kita menjalani kehidupan sesuai dengan ideologi hegemonik, yang biasanya bersifat dominan. Pada tataran kesadaran kolektif, hegemonisasi setiap kelompok masyarakat relatif sama. Akan tetapi, pada tataran individu bisa jadi tidak sama.

Dalam prosesnya, kita tahu bahwa wacana itu bersaing. Wacana bersaing tidak saja dalam rangka merebut subjek, tetapi implikasi lebih jauh dikarenakan adanya aspek merebut penguasaan dan kekuasaan terhadap berbagai sumber kehidupan Hal yang tidak kalah pentingnya adalah merebut penguasaan terhadap kebahagiaan, dan merebut kebenaran. Itulah sebabnya, kita menjadi tahu begitu banyak peristiwa konflik dan peperangan dalam sejarah kehidupan manusia.

Lapis-Lapis Wacana

Dulu, masyarakat Nusantara, hingga abad ke-5 telah memiliki keyakinan dan kepercayaan lokal-tradisional. Pada abad ke 7 hingga ke-9, Nusantara, dengan kerajaan Sriwijawa di Sumatra dan keberadaan Borobudur di Jawa, telah menjadi pusat agama Budha. Pada abad-abad  yang bersamaan, dengan bukti candi-candi di Jawa dan beberapa tempat lain, telah berkembang agama Hindu. Pada masa-masa berikutnya, Islam dan Kristen juga masuk Indonesia. Pada abad 17, pesantren tradisional mulai bermunculan.

Penjajah Eropa, dengan agama Kristen, membawa kapitalisme (Kolonial) dan modernisme di Nusantara (Indonesia). Pada abad ke-19 akhir, pesantren dan sekolah modern mulai bersaing. Dalam praktiknya, nilai-nilai lokal tetap berjalan, tetapi mendapat pengaruh dari nilai-nilai Barat dan modern, yang kemudian dikenal dengan budaya hibrid (hibriditas kebudayaan). Pada abad ke-20 awal, terjadi polemik kebudayaan. Kita memilih untuk menjadi Barat atau tetap berbasis tradisi kita.

Artinya, berdasarkan perjalanan sejarahnya, kita mengalami berlapis-lapis konstruksi wacana yang membentuk bangsa Indonesia, masyarakat lokal-lokal, dan khususnya kita, dan aku secara pribadi. Tampaknya, dalam perjalannya, karena janji ideologis setiap wacana ada kesamaan dan perbedaan, maka tradisi dan agama secara “inheren” mengalami banyak titik pertemuan. Apakah itu kemudian disebut sebagai Pancasila, nasionalisme, kearifan lokal, dan sebagainya.

Akan tetapi, di balik subjek tradisi yang beragama, dalam praktiknya kita adalah subjek (atau aku) yang modern (dan bahkan kapitalistis). Saya ingin membicarakan mengapa aku, “tanpa disadari”, “memilih” modernitas dan modernisme, juga kapitalisme di dalamnya. Namun, secara khusus saya hanya ingin menyorot modernisme karena ideologi ini berkoordinasi dengan kapitalisme.  

Aku Modern

Sebelum menjelaskan “aku modern”, saya ingin menjelaskan bahwa, ketika manusia dikonstruksi oleh wacana, maka manusia hidup dalam dan berdasarkan tatanan simboliknya. Dalam hal ini, aku menjadi ada, karena tatanan simboliknya menyediakan seperangkat nilai yang mendorong seseorang merasa ada, yang terimplikasi dalam berbagai keputusan dan tindakan dalam menjalani kehidupan. Seseorang tidak bisa hidup di luar tatanan simboliknya. Karena, begitu kita keluar dari tatanan simbolik tersebut, kita dianggap tidak normal.

Memang, seperti telah disinggung, tatanan simbolik itu selalu bersaing untuk merebut pengaruh. Akan tetapi, tampaknya, terlepas bahwa di dalam diri kita membawa sesuatu yang “Primitif”, alih-alih bukan tradisi dan agama, bahwa praktik kehidupan modern dan modernisme telah menjadi bagian penting yang terintegrasi secara keseluruhan dan mengkoordinasi praktik-praktik kehidupan lain.

Dalam hal ini, modernime adalah sekumpulan pernyataan, yang mendorong rasionalitas dan empirisitas (ilmu dan hukum positif), menekankan objektifitas yang dapat diuji kembali, dan terutama klaimnya tentang universalitas. Modernisme berhimpitan dengan realisme. Mengikuti logika tersebut, modernisme mengeluarkan aspek yang tidak rasional dan tidak empiirik. Modernisme tidak mengakui hal-hal supranatural, gaib, dan magis. Dalam siatuasi tersebut, modernisme juga berhimputian dengah sekularisme.

Pendidikan dan pelajaran di sekolah umum, dari TK hingga PT, adalah praktik-praktik kehidupan modern dan sekuler. Kita diajari ilmu positif, yang sebenarnya tidak ada akarnya dalam tradisi kebudayaan kita. Di luar ilmu dan pengetahuan positif, hal itu dianggap bukan ilmu yang legitimet, bahkan dianggap mistik dan klenik. Tidak mengherankan jika ada yang  mengatakan bahwa mereka yang masih mempraktikkan hal-hal di luar ilmu positif, dianggap ketinggalan, jadul, ndeso, dan sebagainya.

Munculnya Mitos

Dalam praktik lebih jauh, kita dipacu untuk menjadi manusia, bangsa, dan negara yang maju sesuai dengan frame modernitas. Dalam konteks inilah kemudian kita bersaing untuk maju. Kita masuk dalam suatu kompetisi untuk memenangkan persaingan kemajuan. Kita mengangap orang lain adalah saingan. Kita menganggap daerah lain, kota lain, dan terutama negara lain sebagai musuh kemajuan. Dalam siatuasi tersebut, kemudian, berbagai mitos tentang kemajuan bertebaran dan menjadi sesuatu yang sangat penting, bukan saja bagi kita sendiri, tetapi bahkan negara terobsesi terhadap kemajuan. 

Mitos adalah sesuatu yang sebenarnya belum terbukti benar secara rasional dan empirik, tetapi kita seolah dan telah mempercayainya. Artinya, modernitas juga telah melahirkan suatu kontradiksi di dalam dirinya.

Kita dipaksa bekerja dan berpikir keras dalam suasana yang kompetitif tersebut. Kita dipaksa melakukan berbagai kalkulasi ekonomi, politik, dan sosial untuk memenangkan kompetisi. Anak-anak dipaksa sekolah dan mengikuti berbagai kursus agar menjadi manusida unggul dan maju, agar kelak memenangkan persaingan.

Sebagai akibatnya, kita kehilangan waktu-waktu yang ramah, bersahaja, intim, dan kemesraan di antara kita. Kita kehilangan rasa saling menyayangi dan welas asih di antara kita. Kita kehilangan suasana persaudaraan dan keinginan menolong, karena di luar diri kita adalah saingan.

Karena kehilangan waktu-waktu yang ramah, kita kehilangan rasa gembira dan bahagia. Kita kehilangan rasa lucu dan melucu. Pernah suatu hari kami (Pusat Studi Kebudayaan UGM) melaksanakan lomba melucu. Anehnya, tidak muncul spontanitas tawa. Saya tidak tahu, apa memang yang ikut lomba tidak bisa lagi melucu, atau yang mendengarkan tidak memiliki lagi selera meraca lucu. Semua hal mengalami rasionalisasi dan pikiran. Jika kemudian ada logika yang aneh menurut pikiran, baru dianggap lucu. Akan tetapi, momentum lucu itu sendiri sudah lewat.  

Waktu diatur sedemikian rupa untuk hal-hal yang dianggap ekonomis dan strategis untuk memenangkan kompetisi. Bahkan kini kita kehilangan waktu-waktu bercengkrama karena telah tersita gejet. Kita kehabisan waktu untuk bersilaturahmi. Kita, aku, telah menjadi seseorang yang hilang dalam sejarah sosial kita sendiri. Aku tidak lagi memiliki inisitatif-inisiatif spontan sesuai dengan panggilan kemanusiaanku. Kemanusiaanku yang “Primitif” dan “instingtif”, telah ketelingsut entah di mana.

Mitos lain yang dipacu oleh modernisme adalah kalau kita sukses (dalam pengertian modern), kita akan bahagia. Maka kita pun bersaing untuk sukses. Sukses yang kita pahami adalah, dan terutama, menjadi kaya atau pejabat, atau menduduki posisi sosial yang penting. Berbagai cara kita tempuh untuk mendapatkan kebahagiaan itu.

Kooptasi Ke-Baru-an

Tak urung, modernisme, dengan dukungan teknologinya, juga menggiring kita untuk selalu mengikuti hal-hal yang dianggap ”baru”. Generasi-generasi baru yang dikenal sebagai generasi X, Y, Z. Kalau tidak menjadi bagian yang dianggap baru, maka kita dianggap ketinggalan. Hal-hal lahir, dengan memaksa diri, kita dipaksa menjadi malu jika tidak up date. Kita harus tahu apa itu era 4.0 atau 5.0. Kalau tidak mengikutinya, kita ketinggalan. Hal-hal yang terjadi secara viral, jika kita tidak atau belum tahu, dianggap ketinggalan.

Hingga hari ini, sejarah berjalan ke depan dalam frame modernisme dan kapitalisme. Masa lalu hanya dinggap sebagai kenangan rasional yang hanya berguna jika bisa dikomoditaskan pada masa kini atau ke depan. Negara, dengan buku-buku sejarah resminya, juga kehilangan motif untuk mencatat momen-momen hsitoris yang humanis dan indah. Memang, ada masa-masa lalu yang dikenang sebagai masa kejayaan. Akan tetapi, masa kejayaan itu hanya dalam pengertian politik dan ekonomi. Secara umum, kita kehilangan kenangan yang indah dan tentang keindahan.

Hal itu berimplikasi bahwa hari-hari ini kita kehilangan kemampuan untuk membuat peristiwa tertentu dengan nuasa keindahan. Banyak acara, banyak peristiwa, banyak seremoni, hanya dalam rangka untuk  peristiwa itu sendiri. Bahkan sebagian besar di antaranya lebih dalam rangka keperluan politik dan ekonomi. Herannya, aku dengan semangat terlibat di dalamnya.

Kesadaran Sinis

Kita memasuki satu tahap, yang disebut Zizek sebagai kesadaran sinis. Kesadaran sinis ini berbeda dengan kesadaran palsu Marx. Jika kesadaran palsu kita melakukan sesuatu karena tidak menyadarinya (tidak tahu), tetapi kesadaran sinis kita melakukannya justru karena kita tahu. Kita tahu sebuah tas harganya mahal, dan melebihi fungsinya. Akan tetapi, kita tetap membelinya karena ada pristise modernitas dan kapitalistis yang harus dibayar. Kita membeli simbol-simbol di luar harga kepantasan.

Pada kejadian lain, kita tahu bahwa harga kopi di sebuah kafe internasional harganya sangat mahal. Akan tetapi, kita tetap membelinya. Kita tahu siapa yang diuntungkan dengan harga kopi yang selangit itu. Akan tetapi, dalam tipuan simbolik dan ekonominya, kita justru merasa saleh karena mendermakan sebagian dari uang yang kita bayar untuk membeli kopi itu sebagai sedekah.

Kalau dalam bahasa sloganistis yang ironis, kita telah kehilangan jati diri kita. Jati diri kita adalah sesuatu yang “Kodrati” dan terdapat dalam diri kita masing-masing. Sesuatu, yang dalam Quran disebut sebagai “… Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Surat Qaaf; 16). Karena saking dekatnya, kita tidak lagi merasakannya, entah hilang di mana dalam diri kita. Sesuatu The Real yang bebas tatanan simbolik.

Hilangnya Spontanitas

Payung utama dari semua kehilangan tersebut adalah bahwa kita kehilangan spontanitas. Spontanitas terjadi ketika kita, terutama dalam keadaan tidak sengaja, masuk ke dalam suatu momen bebas tananan simbolik, terjadinya momen kekosongan. Kita kehilangan kesempatan secara spontan menolong orang lain, jika kita berpikir bahwa justru ketika kita menolong, kita akan terlibat dalam masalah. Atau berpkir, ada imbalan atau tidak.

Kita kehilangan kesempatan pertama untuk memaafkan orang lain yang sengaja atau tidak melakukan kesalahan kepada kita. Kita kehilangan kesempatan untuk berterimakasih kepada siapa saja. Secara spontan, kita kehilangan kesempatan untuk meminggirkan atau membuang batu di tengah jalan yang bisa saja membahayakan orang lain.

Yang terjadi adalah bahwa kita membuang sampah di sembarang tempat. Yang terjadi adalah kita mengumpat dengan mudah. Yang terjadi adalah kita menjelek-jelekin orang lain. Yang terjadi adalah kita gampang marah. Yang terjadi adalah kita sulit diajak ngobrol karena perhatian kita ada pada gejet,

Dalam spontanitas itulah sebenarnya terletak otentisitas kita. Secara insidental kita berada di luar tatanan simbolik yang mengatur dan sekaligus menilai hidup kita. Secara tak sengaja kita hidup dalam naluri-kodrati kita masing-masing.

Mari kita mengingat “kehidupan” Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Melihat kehidupannya yang tidak sekolah (tidak terpelajar), hidup lebih berdasarkan perasaan dan nalurinya, sebenarnya Srintil berpotensi untuk hidup sesuai dengan panggilan jati diri kemanusiaannya. Dalam mengambil keputusan dan tindakan, Srintil tidak mengandalkan kalkulasi rasionalnya. Dia menjalani hidup dengan lugu.

Terdapat dua tatanan yang mengungkungnya. Tatanan normatif masyarakat Paruk dan konstelasi politik yang sedang berputar. Dalam ketidaktahuannya, dia terjebak ke dalam dua tatanan itu. Dia menjadi objek ritus ronggeng dan permainan politik. Dalam dua kooptasi itu, Srintil masuk penjara dalam ketidakmengertian. Setelah bebas dari penjara, Srintil menemukan kesejatian dirinya yang paling otentik secara total. Dia hidup di luar tatanan simbolik yang mencengkramnya.

Dalam sejarah sastra (secara global), gerakan perlawanan terhadap realisme (secara inheren adalah modernisme), telah berlangsung lama. Itulah sebabnya, kita kemudian mengenal apa yang disebut sastra realisme magis. Suatu sastra yang mencoba “mencampurbaurkan” realisme dan magisme. Di Indonesia, saya melihat, telah banyak sastrawan muda yang berusaha “mengedepankan kembali” hal-hal magisme dalam karya-karya mereka.

Kehidupan modern telah menentukan mana yang dianggap normal dan mana yang tidak. Modernitas pula yang mengatur hidup kita seolah kita hidup dalam efek panoptik untuk hidup normal sesuai dengan tatanan simboliknya. Pesan pentingnya, kita bisa menemukan otentisitas diri kita kalau kita siap dianggap gila, aneh, asing. Atau kita melakukan spotanitas terus menerus, suatu hal yang semakin sulit ditemukan karena kehidupan modern meminta kita untuk mendukung keberlangsungan hidupnya.

Hilangnya Singularitas

Kehilangan spontanitas menyebabkan sejarah berjalan dalam frame modernitas tidak mendapatkan perlawanan. Kekuatan-kekuatan kapitalisme di dalamnya terus beroperasi lebih dalam. Dalam frame Negri dan Nancy, kita kehilangan singularitas (terutama pribadi) sehingga munculnya multitude menjadi sangat sulit direalisasikan. Yang terjadi, kita menjadi bagian dari identitas tertentu, berdasarkan basis suku, agama, ras, gender, dan berbagai klasifikasi identitas lainnya.

Klasifikasi dan hierarki ini dalam berbagai identitas ini pula yang menyebabkan kita takut untuk merasa sendiri dan berbeda. Kita adalah anak-anak bangsa yang terus menerus mengelola dan memobilisasi politik identitas, demi terutama untuk tujuan ekonomi dan politik, dan itu pula sebabnya berbagai konflik dan kekerasan atas nama identitas tidak dapat dihindarkan.

Di satu sisi, modernisme memang telah berhasil mengatasi berbagai masalah dan keluhan zaman. Akan tetapi, hampir semua mimpi tentang kesejahtarean, kedamaian, dan kebahagiaan, dilumuri kesengsaraan, penderitaaan, dan darah yang berceceran.

Salah satu hal yang ketelingsut dalam peradapan modern adalah perasaan atau mungkin hati-nurani. Tekanan dan kontrol rasionalistas dan empirisitas, serta ilmu positif,  menyebabkan perasaan dan hati-nurani tidak mendapat tempat dalam kita mengambil keputusan dan tindakan.

Padahal, sebenarnya, terutama persaaan dan hatinuranilah lah yang paling akurat dalam mengambil keputusan dan tindakan. Pernah suatu hari, seorang Hakim, berdasarkan pertimbangan perasaan dan hati nuraninya, ia membebaskan seorang pencuri ayam. Bagi saya, keputusan Hakim tersebut sangat akurat.

Kesimpulan

Pertama, saya berharap apa yang saya katakan di atas tidak sepenuhnya benar.

Kedua, untuk kembali mendapatkan spontanitas (dalam bahasa agama sebenarnya hampirnya sama artinya dengan akhlak), maka kita perlu memperbanyak dan mengambil kesempatan untuk secara spontan berbuat tidak dalam kalkulasi ekonomi atau politik. Kita perlu punya keberanian untuk memperbanyak mengambil kesempatan merasa bahagia, merasa nyaman, merasa kaya, merasa merdeka, merasa bebas, merasa setara, dalam momen-momen yang seharusnya kita mungkinkan secara bersama-sama..

Ketiga, jika hidup dalam mitos-mitos modernitas tersebut, jangan pernah berharap kita akan pernah menemukan otentisitas diri kita. Dalam bahasa yang umum, jangan pernah berharap kita menemukan diri kita sendiri, suatu hal yang didorong banyak wacana, tetapi sekaligus tipuan wacana itu sendiri. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin